Senin, 13 Januari 2020

Gerak Tubuh jadi Lambat? Waspada, Gejala Umum Penyakit Parkinson.


Gerak Tubuh jadi Lambat? Waspada, Gejala Umum Penyakit Parkinson.

Dilansir dari laman Alodokter, pada mulanya gejala yang dialami oleh penderita penyakit ini masih tergolong ringan, bahkan tidak disadari oleh pasien. Gejala umum dari penyakit parkinson umumnya diawali dengan muncul pada satu bagian tubuh, kemudian berangsur-angsur memburuk.

Berikut ini 3 gejala utama yang akan dialami oleh penderita Penyakit Parkinson, yaitu:

  1. Tremor. Tremor atau gemetar awalnya muncul di jari dan tangan, dan terjadi ketika bagian tubuh tersebut diam.
  2. Gerak tubuh jadi lambat. Seiring dengan berjalannya waktu, penyakit parkinson akan membuat gerak tubuh menjadi lambat atau bradikinesia, sehingga aktivitas yang sederhana menjadi sulit untuk dilakukan. Contohnya, langkah kaki menjadi lebih pendek saat berjalan, dan sulit bangkit dari duduk.
  3. Otot menjadi kaku. Kaku otot atau rigiditas bisa terjadi di bagian tubuh mana saja. Keadaan tersebut dapat memicu kram otot atau distonia, dan membatasi gerak tubuh.
Selain tiga gejala utama di atas, penyakit parkinson juga disertai dengan gangguan fisik dan mental, antara lain sebagai berikut.

  1. Gangguan keseimbangan, hal ini kemungkinan yang dapat meningkatkan risiko jatuh dan cedera.
  2. Menurunnya kemampuan gerak otomatis, gerakan ini seperti kedipan mata dan ayunan tangan ketika berjalan.
  3. Perubahan nada dan cara bicara menjadi lambat dan tidak jelas.
  4. Kesulitan menulis, dan tulisan menjadi tampak mengecil.
  5. Berkurang atau bahkan hilangnya indera penciuman, yang bisa muncul beberapa tahun sebelum gejala lain.
  6. Gangguan sensoris, keadaan ini kemungkinan yang dapat menimbulkan sensasi terbakar, dingin, dan mati rasa.
  7. Gangguan seksual pada wanita, gejala ini yang ditandai dengan sulit orgasme.
  8. Mengalami pusing, penglihatan buram, hingga pingsan, yang diakibatkan oleh tekanan darah yang turun secara mendadak.
  9. Merasa kesulitan untuk menahan buang air kecil.
  10. Keringat berlebih atau hiperhidrosis.
  11. Produksi air liur berlebih.
  12. Kesulitan menelan makanan atau disfagia, yang kemungkinan dapat menyebabkan tubuh kekurangan nutrisi dan dehidrasi.
  13. Konstipasi atau sembelit.
  14. Insomnia.
  15. Depresi dan serangan kecemasan.
  16. Demensia, merupakan sekelompok gejala yang menyebabkan gangguan dalam mengingat, memengaruhi kepribadian si penderita, serta memicu halusinasi seperti merasa melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada dan delusi yaitu meyakini sesuatu yang tidak nyata.
Dokter dapat mendiagnosa pasien yang menderita penyakit parkinson, apabila terdapat sejumlah gejala umum penyakit parkinson yang telah dijelaskan sebelumnya, dan juga terdapat riwayat penyakit yang sama pada keluarga pasien. Nah, pemeriksaan fisik juga mungkin dilakukan untuk memperkuat diagnosis, yaitu dengan meminta pasien berjalan.

Hingga kini masih belum ada metode pemeriksaan yang dapat memastikan diagnosis penyakit parkinson. Meski demikian, dokter dapat menjalankan sejumlah tes yang bertujuan untuk menyingkirkan kemungkinan gejala yang dialami oleh pasien yang disebabkan oleh penyakit lain, yaitu sebagai berikut.

  1. Uji pencitraan. Misalnya  MRI, CT scan dan PET scan.
  2. Tes Darah.
  3. SPECT (single photon emission computed tomography).
Menurut laman Hellosehat, tidak ada obat yang bisa menyembuhkan secara total, tapi gejala dapat diobati dan komplikasi dapat dicegah dengan melakukan beberapa perawatan:

1. Obat

Obat berperan dalam membantu mengendalikan cara berjalan, bergerak, dan masalah tangan bergetar. Terdapat beberapa obat yang mampu meningkatkan level dopamin, seperti caribdopa‐levodopa, agonis dopamin, penghambat MAO‐B dan COMT, antikolin, dan amantadine.

2. Operasi

Apabila pasien tidak merespon secara positif terhadap obat, operasi mungkin juga diperlukan. Nah, operasi navigasi 3D dapat dengan perlahan dan hati-hati menghancurkan sel otak yang menyebabkan kelainan motorik, dan menghentikan atau mengurangi getaran. Terdapat pula operasi lain yaitu dengan cara menanamkan sel dari janin ke dalam otak. Hal tersebut akan mematikan sel yang terpengaruh.

Operasi jenis ketiga ini dilakukan dengan cara memasang alat elektrik mikro ke dalam otak untuk merangsang bagian yang sakit. Sesudah itu, Anda akan membutuhkan dukungan dalam aktivitas harian seperti terapis.